Saturday, December 03, 2005

Bukan Nostalgia

Duduk berhadapan denganmu
Kali ini bukan untuk
Menyusun huruf
Merangkai kata
Hingga kita bisa mengatakannya cinta…

Berbicara denganmu…
Saat ini bukan untuk
Membalik halaman….
Menuliskan lembar cerita
Hingga kita bisa mengucapkannya “sayang”

Bertatapan denganmu…
Kali ini bukan untuk…
Membaca puisi…
Memainkan senar gitar…
Hingga kita bisa bernyanyi tentang kesetiaan…

Mengenal lekuk wajahmu…
Saat ini bukan untuk…
Melukis kemesraan
Mewarnai ciuman….
Hingga kita bisa mengatakannya…”tak ingin saling melepaskan”

Kini hanya bisa kita katakan..
Mungkin kita terlanjur bermusuhan…
Atas nama semua kesalahan…
Kisah yang kita agungkan…
Harus kita lepas tengah jalan…..

Saat Sudah Lewat

Di pusaramu aku terisak
Maafkan jika aku terlambat…
Melihatmu kini yang telah wafat…….

Aku menyesal…
Untuk semua kesal….
Yang membuatku menjadi pembual…

Banyak kuciptakan kebohongan…
Kataku…
Biar tak kaurasakan sakit perasaan….
Banyak kulakukan penghindaran…
Untuk membuatku lepas…..dari perhatian….

Tak seharusnya aku menangis….
Seperti sangat memalukan….

Seharusnya aku tahu diri…
Jika aku memang terlambat mengakui…
Kalau hanyalah engkau…
Yang tulus memberi arti…

Thursday, December 01, 2005

Menunggu Hujan

Siang...
Hujan...

2 minggu lalu....
ada kisah di bawah hujan...

jadi kenangan...

dan sudah akan kukubur

sebelum aku jatuh

pada sebuah kubangan...

seharusnya jangan kumasukkan...
ke dalam ingatan...

nyaris gila...
jika ditinggalkan

Bangun Tanpamu

Subuh ini...
mulai bangun tanpa namamu...
di kepalaku...

Sarapan pagi...
tapi keinginan menyapamu lagi...

Makan siang...
Seperti tak penting...
memberikanmu ruang di hidupku...

Nongkrong sore...
sudahlah...pusing banget gwe....

Makan malam...
Nikmatnya menghapus namamu...
Dari beberapa direktori

Hang out bareng temen-temen...
Hidup ternyata jauh lebih indah...

Tidur malam...
Lelap...
dan tak ada kamu...
di mimpiku lagi

Wednesday, November 30, 2005

Bukan Pedopil....( maap kalo salah tulis )

16 years...brondong ranum yang bikin gwe cekakan beberapa hari ini.
Siapapun dia....sebut saja namanya dengan panggilan Johny Gondrong. Cowok kelas 2 SMA, sedikit nekat tapi punya nyali bak Jon Duan. Menebar pesona dengan target market 24 up.

"percuma punya cewek sebayaan, kerjaannya mewek mulu...".Simple comment, bikin gwe agak geli, waktu ni bocah cerita ke gwe sambil main-mainin ponsel 9500nya. DAMN!!!,bocah yang katanya keturunan pejabat teras ini mungkin belum merasakan ulekan sambel. Secara dia hanya berkutat dari rumah-sekolah-rumah-dan mungkin tempat ibadah. Well, secara fisik wajahnya cukup dewasa, mungkin banyak orang bilang mirip Christian Sugiono, tapi kalo secara psikis...hihihihiihihiih....coba deh loe ajakin dia makan siang, atau jalan berdua....and he will said...'BENTAR YAH,GWE NANYA MAMI GWE DULU...DIKASIH NGGA YAH"

Temen-temen gwe sebenernya punya agenda licik bikin ni bocah jadi sedikit dewasa. Si chubby Dea menyarankan gwe untuk memberinya sedikit stimulan, katanya sih cuman bakal ngetes, doi cowok normal, abnormal atau GREY AREA ( alias half man and half woman ), sampai-sampai Dea merelakan 30 ribunya cuma buat beliin majalah 18++ buat si Johny Gondrong.

"Buseeettt loe, anak orang tuh....", kataku singkat terlihat sedikit mencegah Dea saat akan membayar majalah 18++ ke loper majalah.
"Kalo loe ngga doyan, biar gwe jabanin aja deh....", Dea meyakinkan diri untuk menggarap bocah kecil bernyali nekat ini.

Lain Dea, lain Mita...cewek yang berwajah sopan tapi berpikiran liar ini menunjukkan hal yang lebih ekstrem. Ratu bokep berwajah manis ini, sudah menyiapkan amunisi. 30 CD bokep bajakan dimasukkan ke dalam box menawan. Katanya, bakal dipakai buat hantaran. Apalagi dalam waktu dekat Johny Gondrong bakal merayakan ultahnya yang ke 16 tahun lebihnya 3 bulan.

"Wah, mewek-mewek, mampus loe, emang enak makan bokep sendirian...", ucap Mita sambil terkekeh. Aku masih asyik menghabiskan sisa rokokku, sambil sesekali menyeruput coklat hangat beraroma mocca.
"Duh, loe wanita-wanita kagak waras yah....kasian kali bocah 16 tahun loe kerjain...", ucapku terdengar bijak.

"Hah, sok loe.....!", Dea setengah meragukan kata-kataku barusan. Tak berapa lama, Johny Gondrong menelpon.....

"Ssssssssssssssstttt...si Gon nelpon nih....udah loe pada diem dulu ye..."

"ya, hallo.....nina here....ada apa John..."
"eh, nin...jangan lupa mam yah..."
Sambil senyum-senyum sendiri, pelan-pelan gwe mencoba menjawab kata-kata Johny dengan nada bijaksana tanpa terdengar menertawakan.
"hihihihii....John, thanks..."

"Lagi dimana loe..."
"Mmmmm...lagi sama temen-temen nih...."
"Oh, ya udah...take care yah..."

Berasa malu, Johny langsung menutup pembicaraan.

"Gimana,...umpan loe sukses???", Dea langsung menerka-nerka materi pembicaraan gwe tadi.
"Mmmmmmm.......umpan??? Loe kate ikan make umpan...

Otak jahil Mita langsung jalan. Melihat wajahku tanpa ekspresi, Mita langsung menyusun rencana. Ia membisikkan sesuatu pada Dea....

Apa bisikannya???????

BERLANJUT YEEEEEEEEEEEEEE ( penulisnya lagi nyusun ide )

Tuesday, November 29, 2005

I G N O R E

Pagi ini, aku memilih untuk mengakhiri saja, semua ilusi yang ada di kepalaku. Terutama satu perasaan yang memang seharusnya tak kuberikan kepada siapapun. Meskipun ini teramat menyakitkan, tapi aku percaya ini bukanlah sebuah kesalahan apalagi kekalahan.

Mungkin, ini pilihan tepat daripada aku sekedar menunda sakit hati. Mungkin dia memang seperti cahaya lilin, yang padam manakala aku sudah cukup kuat melihat ketika matahari terbenam.

Sulit, tapi sepertinya aku harus berjuang membunuh perasaan ini, kalau aku tidak mau membuang waktuku sia-sia. Butuh keberanian, butuh kekuatan, butuh kesabaran.....:)

...dan semoga aku bisa:)

Sunday, November 27, 2005

Cerita Coklat

Menyeruput segelas coklat hangat…
Membuatku merasakan dunia yang sangat nikmat…
Ditemani kentang dan dinginnya Lembang..
Perbincangan kita terdengar cukup matang…

Sambil kaugoreskan pensil di atas putihnya kertas
Kaucoba menaklukkan lekuk wajahku…
Seperti aku tersipu malu..
Tapi senyum itu merekah sambil kau berkanvas…

Angin datang memekak ketentraman..
Seperti menyapa, saat ini sedang ada persahabatan..
Jalinan pertemanan yang teramat meyakinkan…

Tapi waktu harus berakhir saat kaupulang…
Manakala malam menjelang…
Aku kembali merindukan…
Duduk berbincang…bersama coklat hangat…
Duduk dan memandangmu sebagai sababat yang hebat.

It's Sunday But Not A Holiday

Its Sunday…but not a holiday
Still waiting for ur comin here with me again…
If u still need me as your bestfriend…

Maybe I don’t know what do u think bout
Sometimes I’m too busy to know your story..
I just know…u never change
For being my best friend who I run to…

Silence maybe come early
Hurt maybe come accidentally
But trust me….
I will be your lovely bestfriend…..

Sahabatku Bukan Kekasihku

Selalu kusebut dia sahabat
Orang yang kutahu tidak akan pernah menjadi penjilat
Orang yang kutahu ada di sisiku saat aku penat
Orang yang menuntunku menjadi taat

Selalu kusebut dia teman dekat
Kehadirannya bisa kurasakan setiap saat
Renyah tawanya terdengar sangat nikmat
Apalagi ketika kondisiku sedang gawat

Tapi dia memang bukan kekasihku
Tempat dimana kuberikan separuh hatiku
Dia hanya sahabatku
Dan akan selamanya menjadi sahabatku

Tapi jika boleh kujujur padamu…
Sempat terlintas harapan kuberikan ruang hatiku
Setidaknya membuatku nyaman selalu
Sehingga pantas kupanggilmu sayangku…

Jangan, aku sudah berjanji pada hatiku
Dia hanya sahabatku…
Biarku hanya merasakan kenyamanan denganmu
Tanpa harus kumembelenggumu…

Biarlah kamu hanya sahabatku…
Tempatku bisa berbagi senang dan ragu
Tempatku bisa bercerita rindu dan kalbu…
Sampai malam ini, biarku tidur…..
Bersama sedikit mimpi untuk berada di sisimu….

Eksekusi Hati

Butuh kekuatan dahsyat untuk menyusun kalimat ini…
Butuh kerendahan hati untuk menanti…
Butuh kesabaran untuk mendengar jawaban…
Butuh ketabahan, manakala harus ada penolakan…

Memendam perasaan sama saja membunuh hidup perlahan..
Dengan prasangka yang mengitar kepala…
Tidur tak lagi tenang nyaman….
Hanya menunggu sesuatu yang tak jelas kapan menjadi nyata…

Tapi harus kuucapkan saat ini juga..
Meski aku harus perih melihatmu pergi…
Mungkin kamu takut menyakiti…
Hingga harus kauputuskan kauakhiri saja…

Sejujurnya, aku tidak ingin begitu…
Kalau aku harus **********…..ini hanyalah kejujuranku…
Kalau aku memang ********** mu…
Bukankah itu hakku?

Aku melepaskan semua perasaan bukan untuk harapan..
Aku memberikan pengorbanan bukan atas nama imbalan…

Bisa mengenalmu saja sudah cukup membuatku sadar…
Betapa indahnya nikmat karunia Tuhan…
Bisa bersahabat dengan saja membuatku bertahan…
Dari semua goncangan yang nyaris membuatku terbakar…

Bermain Kata

Aku bermain kata di sudut jiwa
Mungkin untuk sekedar menyangkal kenyataan yang ada
Perih yang kini tersisa
Tak ada yang kuharapkan bersama

Kulepas semua asa dalam jiwa..
Kuhempas semua kenangan yang sangat menawan…
Mencoba tertidur dalam kentreman..
Sampai aku bangun menatap cakrawala…

Tidurku hanyalah ilusi sesaat
Hanya untuk mengeremku supaya tak sesat
Jika aku bangun berarti aku kuat…
Melawan para pecundang nan bangsat…

Aku telah kembali pada awal aku dilahirkan
Aku pulang seperti saat permulaan…
Kini harus kumulai perjalanan…
Yang tak akan pernah menjanjikan kemenangan

I N V I S I B L E

Kamu disana,…
Tapi tak nampak di penghlihatanku…
Kamu mungkin sedang asyik berbicara
Tapi sepertinya tak ingin kaumenyapa

Lalu aku bertanya…
Adakah yang salah dengan kata…
Tapi sebelum pertanyaanku berlanjut…
Pintumu terlanjur tertutup…

Semoga ada kesempatan….
Mengulang semua yang pernah indah menawan….
Semoga ada waktu…
Mengulang kisah indah masa lalu…

Kamu mungkin sedang beristirahat…
Dalam lelap kaubenamkan penat…
Sementara aku masih menunggu dalam kebingunganku..
Merindukanmu seperti dulu…

Di Sebuah Perhentian

Kita tidak sedang duduk di atas sofa mewah
Tempat orang mengatakannya nyaman…
Kita bahkan tidak berdiri di gedung megah
Tempat orang mengatakannya mapan….

Kita hanya duduk di trotoar….
Sambil sesekali berkelakar…
Membagi bingung menanti hujan…
Nikmati bimbang dalam kedinginan…..

Sesekali kita terbawa…titik-titik air yang menyapa
Sesekali kita melihat…disini ada harap tersisa…

Beberapa jam lagi kuhabiskan waktu di kota ini…
Mungkin tak banyak yang bisa kuberi….
Hanya bibir keluku ingin berkata…
Betapa aku teramat bahagia…

Di sebuah perhentian…
Ada kisah persahabatan….
Tak akan mungkin kulupakan…
Walau kelak sampai habis kesempatan…..


Bandung, November 19th2005, Dalem Kaung

Bersama Seorang Kawan

Berdiri bersama orang kuat sepertimu
aku jadi mengerti
jika tak perlu kupaksakan
seseorang yang kucintai
melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan
Berbicara bersama orang kuat sepertimu
mengajarku tak berharap balasan
ketika cintaku hanya kunikmati sendiri
tanpa kudapat jawabannya
Berbagi bersama orang kuat sepertimu
Mengajarku bagaimana cinta sejati itu layaknya
bukan dari seribu kata yang kauucap
tapi...
karena kamu mampu bertahan
melihatnya dalam kebahagiaan
meski dia tak pernah membaginya denganmu
menghargai setiap penolakan
dan jawaban tanpa kepastian....
Bermimpi bersama orang kuat sepertimu
mengajarku bagaimana menyatakan ketulusan
kauberikan tanpa kauharap kembalian
Bercerita bersama orang kuat sepertimu
mengajarku tidak memaksakan kehendakku
hanya untuk membuat orang melihatku hebat
karena aku bisa menggandeng seseorang
padahal dia hanya pelarian
Bercanda bersama orang kuat sepertimu
mengajarku menghadapi kesendirian bukan sebagai bencana...
tapi menghargai waktu
ketika aku harus menantikannya.....
dan aku benar-benar
ingin menjadi sepertimu, kawan.......
tribute 2 : my bestfriend AB8223WE

Mata Sang Bintang

Biarkan saja bintang melihat…
Malam ini aku sedang memikirkan seseorang…
Sesorang yang hanya kulukis dalam angan..
Dan memang tak pernah ingin kugenggam…

Biar saja bulan mendengarku bernyanyi
Malam ini aku sedang bersenandung..
Tentang indahnya merasakan cinta…
Meski mungkin sedang menanti luka…

Biar saja lampu neon menjadi saksiku…
Saat hampir tewas asaku…menunggumu..
Mungkin untuk sekedar memberikan sapaan..
Yang kutahu membuatku merasakan kelegaan…

Biar saja selimut melihatku cemberut…
Bingung mana yang harus kuturut…
Mungkin aku tidak perlu takut…
Kalau aku belum bersambut…

Tak akan kukatakan ini kekalahan…
Yan membuatkan sangat dipermalukan…
Mungkin memang bukan giliran…
Yang membuatmu merasakan pengertian